Mengapa Kamu Harus Ikut Lomba Minimal 1 Kali Seumur Hidup

By | Januari 18, 2019

Halo calon programmer!

Mengapa kamu harus ikut lomba?

Sudah pernah ‘kah kamu mengikuti suatu event perlombaan? Apakah kamu justru termasuk yang selalu betah-betah di zona nyaman? Dengan filosofi hidup bagaikan air yang mengalir?

OMG!

Mari kita cermati mengapa kita sebagai siswa, calon programmer, atau programmer expert sekalipun perlu ikut lomba minimal 1 kali seumur hidup.

Inilah 9 alasan mengapa kamu harus ikut lomba versi #{SarapanKode}.

Mengapa harus ikut lomba?

Pada dasarnya manusia terlahir kompetitif. Selalu saja ada hal yang menjadi kompetisi atau minimal perbandingan antara satu dengan yang lain. Misalnya dalam hal tingginya nilai atau kompetisi untuk masuk ke jurusan favorit tertentu. Meskipun sudah lahir dengan jiwa kompetitif, kita perlu ikut lomba dengan beberapa alasan berikut :

Baru dengan ikrar “aku mau ikut lomba” maka kita sudah 1 step lebih maju dari yang lain.

Bagaimana bisa? Contoh mudahnya begini, jika kamu terpilih untuk mewakili sekolah dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang IT Software, di alam bawah sadar otakmu sudah terprogram “wah, nanti pasti saingannya berat. Tidak boleh memalukan diri sendiri dan sekolah. Aku harus belajar!”.

Dengan adanya pemikiran tersebut, kita akan tersadar harus belajar lebih. Lebih keras daripada teman-teman “biasa” lainnya. Dan efeknya, setelah lomba selesai pun kamu sudah pasti lebih pintar dan terampil dibandingkan yang lain.

Dengan ikut lomba, kamu akan merasa dunia “tidak selebar daun kelor”. 

Coba tanyakan ke yang pernah lomba. Apapun jenis lombanya. Sesiap apapun kita, sepintar apapun kita di rumah atau di sekolah, begitu lomba pasti rasanya beda. Melihat wajah-wajah mereka, seragam mereka yang terlihat lebih keren. Laptop mereka yang logonya menyala sementara logo laptop kita sudah mau pudar, dan harus terus dicolokkan agar bisa menyala #nyesek.

Kita akan bertemu dengan berbagai macam peserta. Ternyata yang dari sekolah pinggiran bisa terlihat jago sekali. Yang dari sekolah unggulan terlihat punya skill dewa… aargh..

Selesai lomba, kita tidak akan lagi bisa menyombongkan diri lagi di lingkungan kita. Karena di luar sana masih banyak yang lebih pintar dari kita. Di atas langit masih ada langit.

Dengan ikut lomba, kamu belajar menata hati agar selalu optimis.

Tidak ada yang maju berperang untuk kalah. Tidak ada yang maju lomba untuk kalah. Sekali saja kamu berpikiran “ga mungkin menang”. Selesai sudah.

Optimisme di awal adalah kunci agar kita selalu berusaha. Seberat apapun latihan yang kita lakukan. Sepedas apapun komentar-komentar dari orang yang tidak suka dengan kita, tetaplah optimis. Justru semakin banyak yang seperti itu, semakin kuat kita secara individu.

Dengan ikut lomba, kamu belajar untuk tawakal.

Bagaimana rasanya menunggu detik-detik pengumuman pemenang? Rasanya sungguh tak terkira. 5 menit saja terasa 30 menit. Dan selama menunggu waktu itu, hanya doa yang bisa kita panjatkan. Karena kita sudah berusaha semampu kita, terserah Allah saja yang memutuskan. Kita hanya bisa berjuang dan berdoa. Ya seperti salah satu lagu Rhoma Irama “Perjuangan dan Doa”.

Dengan ikut lomba, kamu punya prestasi yang akan mengubah masa depanmu. Jika jadi peserta, minimal kamu akan mendapatkan pengakuan kalau kamu sudah termasuk generasi yang beda. Apalagi dengan menjadi pemenang kamu akan mendapatkan kejayaan dan penghargaan. Penghargaan bisa berbentuk banyak hal. Tidak hanya soal piala atau uang hadiah. Tapi juga pengakuan dari lembaga / institusi tempatmu bernaung.

Sudah banyak cerita para pemenang lomba PIMNAS di tingkat mahasiswa, ditarik menjadi dosen di kampusnya dulu.

Dengan ikut lomba dan qadarullah menjadi pemenang, kamu akan menginspirasi generasi berikutnya.

Mengapa piala-piala kejuaraan selalu dipajang di depan sekolah atau kampus? Karena selain menunjukkan kalau sekolah tersebut bagus, itu bisa memotivasi para adik tingkat bahwa “kakak kalian berhasil mencapai level ini. Kalian juga pasti bisa. Bahkan bisa lebih tinggi lagi!”.

Dan yang penting, prestasi kalian bisa kalian gunakan untuk memotivasi adik-adik atau anak-anak kalian kelak.

Dengan ikut lomba, kamu membuat orang tuamu bangga.

Kebanggaan terbesar bagi orang tua yang pertama jelas kalau anak-anaknya berbakti. Yang kedua adalah jika anak-anaknya sukses, baik di tingkat sekolah maupun saat berkarir nantinya. Bayangkan bagaimana perasaan orang tuamu dan seberapa bangganya mereka jika kamu diundang ke Jakarta karena berhasil menang Lomba Mobile Edukasi 2019, diberi piala oleh Menteri Pendidikan dan masuk TVRI ?

Dengan ikut lomba, membuka peluang menjadi enterpreneur di kemudian hari.

Ada kisah pemenang lomba mendapatkan dana hibah 60 juta. Dari modal 60 juta tersebut dia bisa membuka bisnis peternakan dan merambah pertanian sejak dia masih kuliah S1. Dan dengan masih tetap rajin ikut lomba, dia bisa lanjut S2 dengan bisnis yang sudah semakin mapan.

Kisah yang lain. Selama seseorang lomba, dia bisa memiliki banyak peralatan elektronika yang harganya mahal-mahal. Darimana dia peroleh uangnya? Dari proposal kebutuhan alat dan bahan yang diperlukan untuk pengembangan produknya selama lomba. Setelah dia selesai lomba semua alatnya dia gunakan untuk membuat bisnis di bidang elektronika dan sekarang sudah memiliki puluhan client dari perusahaan-perusahaan bergengsi di negeri ini.

Dengan ikut lomba, kamu bisa mendapatkan relasi yang banyak.

Dalam konteks bisnis, relasi itu sesuatu yang penting. Jika kalian kelak membuat suatu bisnis, banyak relasi berarti banyak yang bisa kalian jadikan sasaran pemasaran.

Bahkan teman-teman yang kalian temui saat lomba bisa saja membantu proses pemasaran produk kalian.

Dengan ikut lomba, siapa tahu kamu bertemu jodohmu. Atau juri yang menilaimu adalah calon mertuamu kelak 😀

Yang ini tidak perlu dibahas karena semua tergantung kamu, mau ikut lomba atau tidak. Meskipun bisa saja jodohmu ternyata sesama peserta pengajian rutin tertentu…

Kesimpulannya?

Sudah jelas, kamu harus ikut lomba minimal 1 kali seumur hidup! Ada banyak event lomba. Sesuaikan dengan kemampuanmu. Lomba bidang olahraga, bidang kompetensi, bidang pemrograman, bidang karya tulis, semua banyak dan tinggal kamu pilih saja.

Well, itu pendapat saya saja. Adakah yang bisa menambahkan alasan-alasan lain? Saya tunggu komentarnya 🙂

Yuk bagikan ilmu ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *